MATARAM – Mengawali kalender budaya tahun 2026, Pulau Lombok kembali membuktikan diri sebagai pusat kreativitas tradisional yang tak lekang oleh waktu. Ratusan peserta, mulai dari pelajar hingga wisatawan asing, memadati rangkaian Workshop Seni Tradisional yang diselenggarakan di Desa Wisata Sade dan Sukarara pada akhir pekan ini.
Fokus utama workshop kali ini adalah teknik tenun Sesek khas Lombok dan permainan tradisional Gasing. Peserta tidak hanya menonton, tetapi langsung duduk di belakang alat tenun kayu untuk belajar menyilangkan benang emas dan perak di bawah bimbingan para maestro tenun lokal.
"Kami tidak menyangka minat generasi muda begitu besar. Tahun 2026 ini kami melihat banyak anak muda yang bangga memegang alat tenun, bukan hanya gadget mereka," ujar Inaq Sari, salah satu instruktur tenun di Sukarara.
Yang membedakan workshop tahun ini adalah integrasi teknologi ramah lingkungan. Beberapa poin menarik dari acara ini meliputi:
Pewarnaan Alami: Penggunaan ekstrak kulit kayu dan daun-daunan yang diproses dengan metode berkelanjutan.
Digital Showcase: Peserta dapat memindai kode QR pada hasil karya mereka untuk melihat narasi filosofis di balik motif yang mereka buat.
Pasar Kreatif: Hasil karya terbaik dari peserta workshop langsung dipasarkan melalui platform digital lokal untuk mendukung ekonomi kreatif desa.
Workshop ini juga merupakan bagian dari pemanasan menyambut gelaran budaya yang lebih besar di kawasan Mandalika pada pertengahan tahun nanti. Pemerintah daerah berharap melalui pelatihan intensif seperti ini, kualitas produk kriya Lombok semakin kompetitif di pasar global.
Kegiatan ini ditutup dengan pertunjukan tari Gendang Beleq yang menggelegar, menambah kemeriahan suasana di tengah rintik hujan tropis yang tidak menyurutkan semangat para peserta.
Kami senang kamu tertarik! Untuk bergabung, silakan isi formulir berikut dan jadi bagian perjalanan seru kami menjaga budaya Indonesia